wajah pantai tidak kan pernah berdusta..
Ia bergetar saat udara laut menyapu mukanya dengan halus..
Ia berteriak saat angin lincah mengajaknya menari, membentuk gelombang...
Ia tak kan pernah menghindar dari undangan alam tempatnya mencetak bilyunan ombak...
Menghadap awan yang menunggu dengan sabar..
Saat dini hari datang, untuk kedua kalinya mereka bersentuhan, bercengkerama dengan mesra tanpa janji janji surgawi..
Semua nyata...terwujud dengan indahnya
wajah pantai tidak kan pernah menyangkal..
Pasirnya kan membeku saat langit memecah menjadi milyaran kristal putih
Dan mencair saat matahari kembali diangkasa tanpa menyisakan serpih...
Ia tak bersembunyi dari segala perubahan dan gejolak hati...
Menanti awan yang berubah tak pasti..
Dan keduanya berpulang pada kejujuran
Izinkan wajahku menjadi wajah pantai..
Merona saat disulut api cinta..
Menangis saat bathin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah..
Menggurat saat digores sang waktu..
Izinkan wajahku mengekspresikan apa adanya....
Bagai pantai yang tak pernah menolak sampah juga jasad hewan mati..
Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya...
Kepada surya, kepada udara, kepada jagad alam semesta...
Menanti engkau yang melayang mencari arti hidup hingga pagi menjelang..
Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecup halus wajahku...
Saat engkau mencair menjadi aku...dan aku hidup oleh ribuan sentuhmu..
Bersua tanpa topeng samaran...
Hanya cinta yang berbicara
Jombang, july 19, 2012
(tulisan disela sela undangan acara hari bhakti adyaksa ke 52)